Fase Orientasi
Di
fase ini, pasien menyadari mereka membutuhkan bantuan professional, pasien bisa
saja merasa takut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Di
fase ini, peran perawat adalah masih menjadi orang asing atau stranger role. Perawat
perlu menjelaskan diri mereka, menerapkan batasan-batasan dan berusaha memperoleh
kepercayaan dari pasien.
Di
suatu pagi di sebuah rumah sakit, seorang perawat datang ke sebuah kamar tempat
rawat inap. Di kamar tersebut terdapat seorang pasien yang baru saja masuk ke
rumah sakit karena pingsan ketika ingin berangkat menuju kantor. Pasien
tersebut baru saja tersadar dari pingsannya.
Perawat
: Selamat pagi Ibu. Saya (Nama Perawat).
Permisi ya Bu saya mohon izin untuk memeriksa keadaan pasien.
Ibu
Pasien: Pagi suster. Iya sus, saya Ibu (Nama), Ibunya. Silahkan sus.
Perawat:
Baik Ibu.
Perawat:
Selamat pagi, saya (Nama Perawat) yang akan menjadi perawat anda di shift pagi
ini. Anda baru saja dimasukkan ke rumah sakit karena ditemukan pingsan oleh keluarga
anda beberapa saat yang lalu. Bagaimana keadaan anda sekarang ini?
Pasien : Pagi suster, saya (nama pasien). Kepala saya
masih terasa sakit sus. Ada apa dengan saya?
Perawat:
Anda akan baik-baik saja, Pak. Kadar gula dalam darah anda yang rendah menyebabkan
anda kehilangan kesadaran.
Pasien:
Oh begitu ya sus. Terima kasih banyak suster.
Perawat:
Baik, Pak. Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan ya, Pak.
….
Nanti
dokter akan menemui anda beberapa saat lagi untuk memeriksa keadaan anda lebih
lanjut, saya akan mendampingi anda. Bapak kalau membutuhkan apapun atau ingin
bertanya silahkan bertanya dengan saya ya pak, tekan saja bel yang ada di dekat
tempat tidur bapak. Saya permisi dulu ya Bu, Pak.
Pasien
& Ibu Pasien: Iya, terimakasih banyak suster.
Fase Identifikasi
Pada
fase ini, pasien menyadari mereka dapat mempercayai perawat untuk membantunya.
Pasien dengan penyakit yang cukup berat mungkin akan merasakan ketakutan di
fase ini. Perawat disini dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa mereka akan selalu
membantu pasien dan berupaya yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Peran
perawat sebagai leader (leadership) sangat penting di fase ini karena pada fase
ini perawat harus bisa membimbing pasien.
Perawat:
Selamat Siang, (Nama Pasien). Bagaimana Pak keadaanya siang ini?
Pasien:
Pagi Suster. Saya sedih sekali sus, dokter baru saja mengatakan kalau saya
mempunyai penyakit diabetes. Kakek saya juga sakit diabetes dan saya melihat
kalau penyakit itu sangat tidak enak. Saya jadi bingung saya harus seperti apa.
Perawat:
Iya, saya mengerti Pak. Saya disini akan membantu bapak untuk membantu bapak
dalam proses menuju kesehatan bapak. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk
merawat bapak. Dokter juga akan mencoba pengobatan yang terbaik yang bisa
dilakukan, karena itu kami mohon kerja sama dari bapak agar melakukan
pengobatan sesuai dengan yang telah dianjurkan.
Pasien:
Iya suster, terimakasih banyak. Saya butuh bantuan suster, saya senang suster
mau membantu saya.
Fase Ekploitasi
Di
fase ini, pasien dan perawat sudah menuju ke tujuan agar pasien bisa sembuh,
keluar dari rumah sakit dan beraktivitas kembali. Pasien mungkin akan kesulitan
untuk menjadi mandiri nantinya ketika sudah tidak bersama dengan perawat. Pada
fase ini juga dapat ditemukan peran perawat sebagai teacher atau pengajar yang
memberikan pasien informasi bagaimana menjaga dan merawat kesehatannya.
Perawat
1: Selamat Sore Pak, saya dan teman saya sore ini akan megajarkan bapak
bagaimana bapak dapat mengecek kadar gula darah bapak nantinya ketika bapak
dirumah ya pak.
Perawat
2: Sore, Pak. Saya (nama perawat).
Pasien:
Selamat sore suster. Wah saya harus periksa sendiri ya sus nantinya?
Perawat
2: Iya betul Pak. Biar bapak bisa menjaga kadar gula di darah bapak tetap di
batas normal, bapak harus dengan rutin melakukan pengecekan.
Pasien:
Waduh, kalau saya tidak bisa bagaimana sus? Saya takut jarum. Kalau saya datang
kesini setiap ngecek gula darah bisa sus?
Perawat
2: Tidak bisa begitu, Pak. Sudah tugas kami untuk mengajar bapak harus, nanti
kalau bapak minta tolong dengan orang rumah juga bisa. Ibunya bapak juga bisa
ikut belajar sekarang biar bisa membantu bapak nanti dirumah.
Ibu
Pasien: Iya sus, saya juga akan belajar biar nanti saya yang tolong anak saya.
Perawat
1: Iya Ibu, Bapak juga pasti bisa kok, Pak. Lama-lama akan terbiasa dan tidak
akan sakit lagi, caranya juga mudah Pak.
Pasien:
Baik kalau begitu sus. Iya saya juga ingin cepat keluar dari rumah sakit.
Fase Resolusi
Pada
fase terakhir ini, pasien sudah siap untuk keluar dari rumah sakit dan pulang
ke rumah. Fase ini adalah proses memutus atau melepas hubungan antara pasien
dan perawat. Sebelum pasien keluar, perawat juga harus memastikan bahwa pasien
siap untuk merawat dirinya sendiri dengan baik dan benar sesuai dengan
penyakitnya.
Perawat
2: Pagi Pak, hari ini bapak diperbolehkan pulang ya? Pasti bapak senang ya
sudah bisa kembali ke rumah.
Pasien:
Iya sus, saya senang bisa kembali. Tapi sus, saya takut saya tidak bisa menjaga
kadar gula darah saya nantinya dirumah.
Perawat
2: Bapak harus menjaga cara makan bapak dirumah nanti ya pak. Tentunya bapak
tidak boleh banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa tinggi, bapak
harus mengurangi porsi nasi dan karbohidrat lainnya. Kalau bapak nanti dapat
menjaga makan bapak pasti bapak akan baik-baik saja. Jangan lupa juga untuk rutin
meminum obat yang diberikan dokter dan selalu memonitor kadar gula darah bapak
seperti yang sudah diajarkan.
Pasien:
Iya sus. Saya akan mencoba mencari tipe diet yang sesuai dengan saya agar gula
darah saya bisa selalu normal. Terimakasih banyak ya suster untuk semua
informasinya.
Perawat
2: Tentu, Pak. Dengan senang hati saya membantu.
Demikian
4 fase proses-interpersonal seperti yang sesuai dengan teori Hildegard Peplau.
Di dalam fase-fase ini terdapat juga peran-peran perawat seperti yang telah
dijelaskan. Peran sebagai stranger ketika pasien pertama masuk ke RS, peran
sebagai teacher/pengajar contohnya tadi ketika perawat mengajarkan cara
mengecek gula darah, narasumber ketika memberikan informasi, konselor ketika
perawat membantu pasien dengan keluhannya, wakil/pengganti ketika perawat
melakukan asuhan keperawatan dan peran sebagai leader ketika perawat membimbing
pasien agar dapat menjaga diri sendiri dan tidak bergantung secara terus
menerus dengan perawat.