Wednesday, October 19, 2016

Role-play Teori Hildegard Peplau

Posted by Iconic at 8:57 PM 0 comments

Fase Orientasi
Di fase ini, pasien menyadari mereka membutuhkan bantuan professional, pasien bisa saja merasa takut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Di fase ini, peran perawat adalah masih menjadi orang asing atau stranger role. Perawat perlu menjelaskan diri mereka, menerapkan batasan-batasan dan berusaha memperoleh kepercayaan dari pasien.

Di suatu pagi di sebuah rumah sakit, seorang perawat datang ke sebuah kamar tempat rawat inap. Di kamar tersebut terdapat seorang pasien yang baru saja masuk ke rumah sakit karena pingsan ketika ingin berangkat menuju kantor. Pasien tersebut baru saja tersadar dari pingsannya.

Perawat :  Selamat pagi Ibu. Saya (Nama Perawat). Permisi ya Bu saya mohon izin untuk memeriksa keadaan pasien.

Ibu Pasien: Pagi suster. Iya sus, saya Ibu (Nama), Ibunya. Silahkan sus.

Perawat: Baik Ibu.

Perawat: Selamat pagi, saya (Nama Perawat) yang akan menjadi perawat anda di shift pagi ini. Anda baru saja dimasukkan ke rumah sakit karena ditemukan pingsan oleh keluarga anda beberapa saat yang lalu. Bagaimana keadaan anda sekarang ini?

Pasien : Pagi suster, saya (nama pasien). Kepala saya masih terasa sakit sus. Ada apa dengan saya?

Perawat: Anda akan baik-baik saja, Pak. Kadar gula dalam darah anda yang rendah menyebabkan anda kehilangan kesadaran.

Pasien: Oh begitu ya sus. Terima kasih banyak suster.

Perawat: Baik, Pak. Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan ya, Pak.

….

Nanti dokter akan menemui anda beberapa saat lagi untuk memeriksa keadaan anda lebih lanjut, saya akan mendampingi anda. Bapak kalau membutuhkan apapun atau ingin bertanya silahkan bertanya dengan saya ya pak, tekan saja bel yang ada di dekat tempat tidur bapak. Saya permisi dulu ya Bu, Pak.

Pasien & Ibu Pasien: Iya, terimakasih banyak suster.


Fase Identifikasi
Pada fase ini, pasien menyadari mereka dapat mempercayai perawat untuk membantunya. Pasien dengan penyakit yang cukup berat mungkin akan merasakan ketakutan di fase ini. Perawat disini dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa mereka akan selalu membantu pasien dan berupaya yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Peran perawat sebagai leader (leadership) sangat penting di fase ini karena pada fase ini perawat harus bisa membimbing pasien.

Perawat: Selamat Siang, (Nama Pasien). Bagaimana Pak keadaanya siang  ini?

Pasien: Pagi Suster. Saya sedih sekali sus, dokter baru saja mengatakan kalau saya mempunyai penyakit diabetes. Kakek saya juga sakit diabetes dan saya melihat kalau penyakit itu sangat tidak enak. Saya jadi bingung saya harus seperti apa.

Perawat: Iya, saya mengerti Pak. Saya disini akan membantu bapak untuk membantu bapak dalam proses menuju kesehatan bapak. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk merawat bapak. Dokter juga akan mencoba pengobatan yang terbaik yang bisa dilakukan, karena itu kami mohon kerja sama dari bapak agar melakukan pengobatan sesuai dengan yang telah dianjurkan.

Pasien: Iya suster, terimakasih banyak. Saya butuh bantuan suster, saya senang suster mau membantu saya.


Fase Ekploitasi
Di fase ini, pasien dan perawat sudah menuju ke tujuan agar pasien bisa sembuh, keluar dari rumah sakit dan beraktivitas kembali. Pasien mungkin akan kesulitan untuk menjadi mandiri nantinya ketika sudah tidak bersama dengan perawat. Pada fase ini juga dapat ditemukan peran perawat sebagai teacher atau pengajar yang memberikan pasien informasi bagaimana menjaga dan merawat kesehatannya.

Perawat 1: Selamat Sore Pak, saya dan teman saya sore ini akan megajarkan bapak bagaimana bapak dapat mengecek kadar gula darah bapak nantinya ketika bapak dirumah ya pak.

Perawat 2: Sore, Pak. Saya (nama perawat).

Pasien: Selamat sore suster. Wah saya harus periksa sendiri ya sus nantinya?

Perawat 2: Iya betul Pak. Biar bapak bisa menjaga kadar gula di darah bapak tetap di batas normal, bapak harus dengan rutin melakukan pengecekan.

Pasien: Waduh, kalau saya tidak bisa bagaimana sus? Saya takut jarum. Kalau saya datang kesini setiap ngecek gula darah bisa sus?

Perawat 2: Tidak bisa begitu, Pak. Sudah tugas kami untuk mengajar bapak harus, nanti kalau bapak minta tolong dengan orang rumah juga bisa. Ibunya bapak juga bisa ikut belajar sekarang biar bisa membantu bapak nanti dirumah.

Ibu Pasien: Iya sus, saya juga akan belajar biar nanti saya yang tolong anak saya.

Perawat 1: Iya Ibu, Bapak juga pasti bisa kok, Pak. Lama-lama akan terbiasa dan tidak akan sakit lagi, caranya juga mudah Pak.

Pasien: Baik kalau begitu sus. Iya saya juga ingin cepat keluar dari rumah sakit.


Fase Resolusi
Pada fase terakhir ini, pasien sudah siap untuk keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Fase ini adalah proses memutus atau melepas hubungan antara pasien dan perawat. Sebelum pasien keluar, perawat juga harus memastikan bahwa pasien siap untuk merawat dirinya sendiri dengan baik dan benar sesuai dengan penyakitnya.

Perawat 2: Pagi Pak, hari ini bapak diperbolehkan pulang ya? Pasti bapak senang ya sudah bisa kembali ke rumah.

Pasien: Iya sus, saya senang bisa kembali. Tapi sus, saya takut saya tidak bisa menjaga kadar gula darah saya nantinya dirumah.

Perawat 2: Bapak harus menjaga cara makan bapak dirumah nanti ya pak. Tentunya bapak tidak boleh banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa tinggi, bapak harus mengurangi porsi nasi dan karbohidrat lainnya. Kalau bapak nanti dapat menjaga makan bapak pasti bapak akan baik-baik saja. Jangan lupa juga untuk rutin meminum obat yang diberikan dokter dan selalu memonitor kadar gula darah bapak seperti yang sudah diajarkan.

Pasien: Iya sus. Saya akan mencoba mencari tipe diet yang sesuai dengan saya agar gula darah saya bisa selalu normal. Terimakasih banyak ya suster untuk semua informasinya.

Perawat 2: Tentu, Pak. Dengan senang hati saya membantu.


Demikian 4 fase proses-interpersonal seperti yang sesuai dengan teori Hildegard Peplau. Di dalam fase-fase ini terdapat juga peran-peran perawat seperti yang telah dijelaskan. Peran sebagai stranger ketika pasien pertama masuk ke RS, peran sebagai teacher/pengajar contohnya tadi ketika perawat mengajarkan cara mengecek gula darah, narasumber ketika memberikan informasi, konselor ketika perawat membantu pasien dengan keluhannya, wakil/pengganti ketika perawat melakukan asuhan keperawatan dan peran sebagai leader ketika perawat membimbing pasien agar dapat menjaga diri sendiri dan tidak bergantung secara terus menerus dengan perawat.

Saturday, July 30, 2016

1.168km Away

Posted by Iconic at 12:00 PM 0 comments

Hi there,
If you’re reading this then it must’ve been a month since the day you left.

Icon pernah bilang ya kan yos, pasti sedih ya kalo jadi yang ditinggal, kalo kita perginya bareng gitusih gapapa, nggak kerasa soalnya sama-sama sibuk.
Mikirnya sih Icon bakalan ke Manado, Yoshua di Batam. Ternyata Tuhan nggak bilang iya soal Icon jadi dokter, and that’s okay.


And I’m the one who stay,

and it’s true, it’s absolutely a bittersweet moment for me, for us maybe, but just let me be selfish this time because I’m gonna tell you how it feels to be me at that time, I am excited for you, for everything that you can do ,that I know you couldn’t when you’re still here, and oh dear, you should be too.
I believe there’s a lot of things you can achieve and learn in your new place, just do it, and I’ll be waiting for the stories about how you made it in the end of the day.


I’ve had just enough time with you,
2 years and 3 months of us, and you were one of my high-school sweethearts, my bestfriend and my eat-everything-partner that I’m so thankful about lol. We've had enough time, there's a lot of good memories of you in my mind.

June 30th’16,
It was the day when you left.
I remember that day, it was 3 am in the morning and I was crying, not because of you, I swear to God I don’t even care about you (well at first), but because at that time my post-op friggin wisdom tooth was hurt as fudge. I had a fever and a very weeeiiirddd dream (katanya gigi gua dibawa kapal dan setiap kapalnya pergi gigi gua bakal sakit banget sumpah, it was horrible) because of the pain that night.
Well, thank God for obat anti sakit dari dokternya which btw makes me sleepy as hell. I made it that day.

I didn’t cry that day, or the day after, or even the day after that,
I never cry since the day you left this town. Not even once.

Susah sih emang awalnya, Yoshua yang awal-awal masih sibuk pindahan, beresin rumahnya, kesana kemari ngurusin kuliah, dan lain sebagainya, susah liat line, dan Icon gabut banget dirumah nggak bisa kemana-mana dan tanpa disadarin pun diawal-awal Icon sempet marah, entah yoshua sadar atau nggak, and I was a fool, I was being selfish, entah gua marah sama apa, nggak jelas, akhirnya pun gua sadar, udah saatnya buat kita ngejalanin hidup masing-masing, to fight for our dreams, harus ngebiasain diri karena itu belom apa-apa.
Nantinya Icon bakalan kuliah dari pagi sampe sore, Yoshua kerja dari pagi sampe sore dan malemnya kuliah, entah kapan kita bisa ngobrol gajelas lagi. Tapi gapapa, kalo emang Tuhan mau kita sama-sama pasti akan terus ada jalan.
Tanggal 1 Yoshua udah mulai kerjanya, udah kuliah juga. Semangat kamu maz-maz gembul, kita ngobrolnya minggu aja gapapa kok nyahahaha.
Hah anyway, lu balik gua udah jago nyuci yos, liat aja. Lu sukses gua juga sukses. Nanti ya 4 tahun lagi, yoshua S.E , Icon S.Kep terus sekolah dulu lagi setaun:’)
Tepati janji lu ya beliin playdoh nanti.


.

.

This screenshot was taken when you said that they sell penguin-meat there in Batam and i ...... somehow, believed it.

.


I missed you, I would say with all of my heart but my fat is bigger than my heart so, I missed you with all of my fat.

.

I think I would cry if I ever see you again.

.


Anw,
People asked,
“Are you okay?”

I am fine, I’m getting used to it.

I’m  just trying to get back to the life before him, which I barely even remember.

Well, anywaaay, we both have interesting journey to face in front of us, we’ll be just fine, aren’t we, Yos?

Monday, July 4, 2016

Cheers! (going into college, SBMPTN, new dreams)

Posted by Iconic at 2:22 PM 0 comments
I honestly don’t know where to start, there’s so much going on these days;

Maybe it all started a few years ago, when everyone will ask “what you gonna be when you grow up?” and I will immediately say, “a doctor!”

Mungkin kalo kalian nanya pertanyaan yang sama ke gua sekarang, jawaban gua nggak bakal sama kayak yang diatas, gua akan jawab, “gua mau kerja buat Tuhan, jadi apapun yang dia mau.” 

Cliché much?

I know nothing in this wild-wild-world.

Oh iya, itu bukan karena hasil test yang mengatakan gua nggak lolos Fakultas Kedokteran, iya gua nggak lolos seleksi but anyway,
sebelum gua test pun gua bakal jawab seperti yang udah gua sebutkan, sekali lagi bukan karena itu bentuk berserahnya gua biar Tuhan bisa kasian sama gua atau apa, selama gua belajar buat test itu, gua mulai mikir apa bener yang Tuhan mau ini, kenapa gua ragu? 
Bukan mau sombong, biasanya feeling gua selalu kuat mengenai suatu hal, I know when something’s wrong.
Gua pun mencoba untuk melihat ke gambaran yang lebih besar lagi, what’s life all about? Apa yang gua mau, apa yang akan membuat gua bisa pake potensi yang Tuhan kasih dengan sepenuhnya?

And I just realized that life’s so much more than that. 
Kita yang orangtuanya mendukung kita biar bisa sekolah, oh believe me, kita harus sangat sangat bersyukur, kita jauh jauh sangat lebih beruntung dari banyak banget orang di dunia yang bisa masuk SMP aja udah syukur, banyak banget juga yang lulus SMA dipaksa nikah sama orangtuanya atau kerja karena tuntutan ekonomi yang buat mereka jadi ngga bisa ngelanjutin kuliah, dan ngga sedikit juga yang masih berpikiran “buat apa sekolah tinggi-tinggi?”.

Semua ini demi apapun bukan pembelaan diri dan bukannya gua juga jadi ngga mau ngelanjutin sekolah, tapi cuma ngingetin aja ketika lo merasa gagal ada baiknya menjauh sedikit dan liat ke gambaran yang lebih besar, it works for me. Tuhan ngajarin anak-anaknya buat kuat dan sabar, nggak ada yang janjiin hidup enak dan serba gampang.

Mungkin banyak yang bakal mikir gua nggak berjuang keras buat dapetin mimpi gua yang udah gua cita-citakan dari umur 5 tahun itu. Idk, mungkin kalian ada benarnya, mungkin tidak, whatever helps you sleep at night people cannot be pleased anw, cuma gua dan Tuhan yang tahu pergumulan yang sudah gua lewatkan. 2 tahun lalu kira-kira diwaktu yang hampir-hampir sama, gua bergumul dengan kenyataan kalo sepertinya gua nggak bisa masuk jurusan IPA karena aduh yang namanya matematika dan fisika itu bener-bener deh untuk seorang Icon kayak nggak jodoh gitu, gua inget gua berdoa setiap malem memohon-mohon bilang, “Tuhan kalo emang Tuhan mau aku jadi dokter pasti Tuhan yang buka jalan”

Tuhan nggak bisa diajak tawar menawar.

Dan akhirnya si Icon masuk IPA, disaat temen-temen gua yang gua yakin nilainya lebih bagus daripada gua itu ada yang nggak bisa masuk IPA. Tuhan baik.
Waktu itu gua punya 2 pilihan untuk pindah sekolah kalo nggak masuk IPA atau masuk IPS dan cari yang lain, gua kepikiran psikolog since I love to read people thoughts and everything, tapi ternyata Tuhan nggak bawa gua kesitu. Semenjak itu gua makin yakin kalo emang Tuhan mau gua jadi dokter karena gua sendiri pun udah janji gelar dokter gua itu buat orang yang ngebutuhin, bukan untuk uang dan sekedar prestige-nya bisa jadi anak FK.

Semakin kesini tiba-tiba ada perasaan ragu, gua selalu takut untuk ngakuin gua ragu karena harapan keluarga gua biar gua jadi dokter itu sangat besar, gua lebih takut ngecewain keluarga daripada diri gua sendiri, so I did it anyway. But thank God for my mom, mama yang tadinya being pushy about me masuk kedokteran, mama bilang gapapa kalo gua emang nggak mau. Cuma dari mama aja gua sudah merasa saaaangaaat lega, tapi tetep sih gua bingung sama apa yang sebenernya Tuhan mau, tapi apalah artinya rencana manusia dibandingkan rancangan Tuhan?

I personally think that being a doctor, it takes more than just a smart brain and a kind heart of a person, it takes your whole life dedication, jadi dokter itu nggak sekedar jadi dokter tapi itu pengabdian seumur hidup dan itu soal hidup mati banyak orang, bukannya takut, I really wanted to do that for a long time, temen-temen deket gua pun tau kerjaan si Icon nontonin prosedur operasi, ngeliat proses-proses yang orang bilang serem dan bikin jijik but I found it interesting like how amazing is that seriously tho, tapi bisa bilang apa kalo Tuhan anggap belom qualified enough?
Emang bisa coba di swasta, tapi ya pertama gua nggak mau nyusahin orangtua karena biaya yang mahal banget itu dan gua juga nggak mau maksain jadi dokter karena gengsi cita-cita 12 tahun gua, gua nggak mau jadi dokter yang nggak berkualitas karena nantinya otak gua nggak mampu, itu soal hidup dan mati orang lain, kita tau kalo di Indonesia ini fakultas kedokteran udah banyak tapi dokter berkualitasnya nggak sebanding, banyak cap negatif yang kayak “dokter indo mah nyari duit, dikit-dikit operasi ya gimana orang kuliahnya mahal”.

So, for what it’s worth, I really hope that teman-teman yang Tuhan jawab doanya bisa masuk kedokteran, jangan disia-siakan karena banyak orang diluar sana yang pengen banget ada di tempat kalian, dan gua sendiri sih berharap kalo kalian jadi dokter jadi yang berkualitas yang emang mau melayani dan bukan karena alasan kayak biar keren atau kayaknya asik aja jadi dokter, punya tujuan di dalam dunia kesehatan Indonesia, they need you, this country needs you.

And now what? Is it hurt? 
Honestly tho, sebelum hari pengumuman itu gua sudah tahu apa yang bakal jadi hasilnya, boleh kalian sebut gua pesimis atau apa, tapi gua tahu kemampuan diri gua sendiri, kalo emang gua bisa gua pasti masih berharap dan di SMA pun gua biasanya tahu kalo nilai ulangan gua bakal remed atau nggak heheh tapi ya kesel juga sih kalo iya. Bahkan gua kelas 10 sering banget nggak belajar buat ulangan karena entah gua tahu aja kalo ulangannya nggak jadi, dan biasanya sih bener hehe.
Terus jadi pas hari pengumuman itu paginya jam 9 gua ada operasi cabut gigi bungsu, yang ternyata astaga pas efek biusnya udah ilang itu sakit banget sampe kaget, pipi gua sampe sekarang pun masih bengkak nyahahah, jadi gua udah sama sekali nggak peduli sama hasilnya, sampai sekarang pun nggak gua buka, mama yang buka terus mama cuma bilang “ade ngga keterima, mama yang bukain” tanpa ngasih liat juga, karena itu lagi mau ngasih gua obat hahaha.

Sakit? Sakit giginya sih hehehe, yaaa sakit sih bagian harus melepas mimpi gua yang umurnya udah 12 tahun itu dan pastinya sedih karena gua nggak memenuhi keinginan keluarga besar and I’m so sorry for that, tapi Tuhan udah siapin yang jauh lebih baik, dan gua sangat yakin kalo yang ini. Akhirnya pun gua yang harus jalanin semuanya, memang bener saat-saat krusial dalam hidup manusia itu harus dijalanin sendiri, kalo terus-terusan mau ikutin orang kamu kapan hidupnya, banggain keluarga itu pasti harus dilakuin tapi banggain juga bukan berarti harus ngikutin strict gitu, berhasil itu nggak terpaku sama suatu hal dan banyak definisinya.

Dan soal PTN PTS, gua sendiri coba PTN karena soal biaya masuk kedokteran swasta yang mahal itu, istilahnya di PTN aja lumayan apalagi di swasta jadi karena tau diri ya maunya di PTN, bukan karena papa mama nggak mampu, I believe they will do anything for me to get what I want for my Dad once said, “nggak usah mikirin uangnya, ade kalo mau masuk situ ya masuk aja”. Aduh gua nggak mau banget udah ngabisin duit tapi cuma jadi dokter pas-pasan maksa.
Jadi gua sih percaya PTN PTS itu sama aja, bukan kampus yang nentuin kualitas seorang manusia, manusianya sendiri kan yang nentuin, mau sepinter apapun kalo cuma rajin pas mau SBMPTN doang pas udah masuk leyeh-leyeh ya sama aja kan dan gua juga penganut keras kalo hidup nggak secetek kuliah, PTN/S, atau soal jadi apa, tapi soal ngebentuk karakter karena ilmu juga nggak cuma teori, the way you treat people, the way you face your problems, the way you solve them, and the way you find your own happiness, that’s what matters the most.

Gua semangat banget buat ngejalanin semuanya, dan ohiya, gua coba masuk S1 Keperawatan, jadi janji gua untuk melayani itu masih bisa gua wujudkan.
Gua semangat untuk lihat hebatnya kerja Tuhan di hidup gua ke depannya, emang awalnya gua takut buat ganti mimpi tapi sekarang nggak sama sekali for I have the most powerful thing in this world, blessings. I’m beyond blessed to experience such a wonderful years, and I believe there are more years to come. I’m shooo excited that the best is yet to come, masih panjang perjalanannya, gua mau jalan-jalan, mau nulis buku, mau belajar musik, mau jadi guru sekolah minggu lagi, mau ketemu banyak orang, mau main make up biar bisa makeup-in orang, mau koleksi lipstick dan highlighter, mau kerja, mau ketemu yoshua lagi ahahah, mau volunteer ke daerah-daerah, mau berbuat sesuatu yang berguna buat orang lain, mau kurus dulu, mau warnain rambut tapi nanti ajadeh hehe nanti alay, mau baca buku sebanyak-banyaknya, mau bikin orang seneng, mau punya apartement, mau belajar masak, mau beli kamera buat vlog, dan maunya sih ngelakuin semuanya selama masih muda, sebelum 30 tahun deh hehehe.


Iya, hidup itu nggak secetek satu kali kegagalan.

Dan ohiya, I want to live my life to the fullest untuk ngerasain kegagalan gua di tahun-tahun mendatang sebelum gua berhasil sukses nantinya.

Cheers,
Icon soon to be a nurse-writer-cook-freelancer-mua-etc,
xx

Monday, March 21, 2016

Happy 21st of March! (x2)

Posted by Iconic at 12:00 AM 0 comments
Halo maz maz freak - bapak kopeto - si bolot!
Selamat mengulang tanggal 21 Maret yang kedua bersama si Icon huehehehe.

Its been 2 years!!!! Baru 2 taun sih, but it feels like i've known you better than anyone and vice versa.
First thing first, yes in this post i'm going to post things about you, us and me while we're on the phone, you're playing Counter Strike and i'm waiting for the download to be finished so we can play it online together.

Geez, words really couldn't describe how grateful I am that God let you to be part of my life, what would i be without you, Yos?
Terimakasih ya dear, sudah banyak melakukan hal yang gak terhitung banyaknya buat bikin segumpalan Icon ini senang. You put a lot of effort on me that sometimes i think maybe it's unfair but then, kita sama-sama songong, lu juga banyak maunya jadi kita impas nyahahah.
Im so glad that we're taking care of each other, saling melengkapi,
Yoshua yang tepat waktu, Icon yang ngaret
Yoshua yang tenang, Icon yang panikan
Yoshua yang sayang barang, Icon suka buang buang barang:'
Yoshua yang suka berantakan, Icon yang rapihin
Yoshua yang bolot, Icon yang agak gak bolot(?)
dan masih banyak lagi, it feels like more than that,

I know that i'm crazy and weird and stuff, but you are okay with it because you're just as weird.
It's like, gua makan semangkok mie ayam keju mahal yang ada banyak sawinya, dan lu yang makan sawinya (dan pasti minta mie kejunya jugasih),  jadi kita berdua gak rugi, sama-sama senang.
Itu perumpamaan yang aneh, tapi beneran. Ya gitudeh pokoknya.

The term of 'Pacaran' selalu buat gua geli, tapi sama Yoshua ya nggak menggelikan,
I've known your for almost six years!!! Dari gua salah ngatain orang, sampe kita temenan, lu cerita soal cewe-cewe yang lu suka, which was my friend lol. Sampe jaman nya gua liat lu pelayanan di gereja, nilai lu dari cara lu memperlakukan adek dan mama, you treat them as your queen and i wouldn't be surprised if you're willing to treat your girl as your princess, and I adore you ever since, i thought that you would be a great boyfriend, but i never really thought you would be MY boyfriend.

Gua nggak pernah ngebayangin yang namanya 'have that kind of relationship' yang pake aku-kamu, bilang aku sayang kamu, ngerayain anniv tiap bulan, karena gua sangat tidak begitu. Ngomong pake aku-kamu sama lu sampe sekarang aja geli kalo nggak lagi becanda, pake aku-kamu kayak lagi ngomong sama anak sekolah minggu gua:(
but anyways, yoshua tidak pernah bikin icon nggak nyaman sama hal-hal kayak gitu, karena we're basically have the same way of thinking in some type of ways.
I enjoy every moments i shared with you, bahkan sampe ke berantem-berantemnya, yang kadang sangat hebat sampe lucu mikirinnya, kayak orang mabok.

Terimakasih loh yos setiap gua marah pasti yoshua selalu tbtb line 'gua depan rumah' nyahahahah dan gua pun akan keluar sambil nahan ketawa.
Terimakasih sudah jadi sumber ketawa tengah malem bahkan subuh-subuh, bikin kesel sampe nangis, dengerin icon nangis, ketawa, marah-marah, dan udah mau dengerin my wildest dreams, my life goals bahkan ikut merencakan untuk bantuin icon mewujudkannya.
Thank you yos udah tahan dimarah-marahin, sudah mau dengerin Icon, sudah mau merubah kebiasaan gak baik, semangat terus ya sayang:p

We've been through a lot of fun times, tears of laughter even sadness, and i swear i'm so excited to feel them all over again for the next 100 years. You made me feel blessed and loved, honoured and, i can tell that we're both growing up. ahhh im too excited yos, i know it's kinda scary, but we'll be okay, right?

Mungkin tanggal 21 Maret tahun depan, dan entah berapa tahun ke depan kita nggak bisa ngerayain bareng, but that's okay (kita juga gapernah ngerayain sekarang), just promised me to reach out for your dreams, kita sama-sama sukses dulu, kalo Tuhan yang udah rencanain, kita mau lari dari satu sama lain pun pasti akhirnya ketemu lagi.
Pokoknya sukses ya Yoshuanya Icon, si kopet heuheuheu.
Selalu jalan dalam Tuhan Yesus ya, Emmanuel Yoshua-ku sayang.

Cheers for our 2nd Anniversary and more years to come! God be with us and our relationship!
Me loves you more than just very much, thank you for your love to si Icon:)

Jemput ye jam setengah 5. bhay.




 

A Journal of The Random Minded Ones Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos